Seusai jam kerja, Mely selalu membelikan makan malam untuk
pacarnya, Dodi, yang telah menunggunya di kosan. Hal ini hampir setiap
hari dilakukannya, kecuali bila ternyata Mely harus lembur di kantor
atau bila kebetulan dia bisa pulang cepat untuk memasak. Malam ini, Mely
membelikan ayam gulai di rumah makan Padang kesukaan Dodi.
“Say, ini nasi Padangnya.. buruan makan loh sebelum dingin,” kata
Mely setiba di kosan, sambil membukakan bungkusan nasi tersebut dan
menaruhnya pada sebuah piring bersih. Tidak lupa juga dia menyediakan
sendok garpu untuk Dodi yang sedang sibuk browsing internet. Ditaruhnya
makanan tersebut di samping laptop.
“Aku mandi dulu yah..”, Mely memberi tahu. Dodi tetap diam, hanya
tangannya yang maju mengambil sekeping kerupuk udang dari atas piring
sambil matanya terus fokus pada layar monitor. Sibuk klik ini dan itu.
Keluar dari kamar mandi mengenakan kaos dan celana pendek dengan
handuk tergantung di lehernya, Mely kaget melihat Dodi sedang memegang
Blackberry miliknya dan memeriksa isinya. Meskipun sering kali Dodi
melakukan hal itu, namun selalu ada rasa was-was di hati Mely.
“Siapa Rico?”, tanya Dodi tajam sambil memperlihatkan layar Blackberry Messenger yang penuh dengan
chat antara Mely dengan seorang pria bernama Rico.
Deg! Hati Mely berdegup kencang…
Rico adalah supervisornya di kantor dan sepertinya Rico sangat
tertarik pada dirinya, tapi Mely sama sekali tidak punya perasaan apapun
selain sebagai kolega saja. Isi
chat-nya pun hanya obrolan biasa saja.
Tapi Rico bukanlah masalah. Yang jadi masalah adalah Dodi…
Melihat ekspresi Mely yang kaget, Dodi langsung naik pitam. Serta
merta ia bangkit berdiri, membentak keras dan mulai marah-marah. Menuduh
Mely selingkuh dan tidak setia. Menuduh Mely sudah bosan dengannya.
Mely berusaha menjelaskan dan memohon supaya Dodi jangan marah, tapi
Dodi tidak bisa diberi penjelasan. Mely juga sudah tahu hal ini. Setiap
kali ia marah, urusan pasti jadi panjang.
Melihat Mely yang panik, Dodi semakin menjadi-jadi. Ia mendorong Mely
dengan kasar dan mencaci-maki dengan kata-kata kotor yang tidak pantas
diucapkan oleh siapapun. Mulai dari nama-nama binatang, hingga pelacur
dan perek murahan.
Setiap kali pertengkaran mencapai titik ini, Mely hanya bisa
meringkuk dan menangis di lantai. Belum puas dengan itu semua, Dodi
menepis piring berisi nasi Padang yang dibelikan Mely untuknya. Pecahan
piring dan nasi Padang berserakan di lantai.
“Kalo lo emang dah bosen sama gue, bilang aja.. jangan pake maen di
belakang! Dasar perek!”, Dodi membentak sekali lagi sambil melempar
Blackberry Mely ke lantai yang langsung tercerai berai. Ia pergi
meninggalkan Mely yang tersedu-sedu pilu.
Hatinya hancur berantakan seperti serpihan piring beling yang berserakan di lantai..
Keesokan harinya, sepulang jam kerja Dodi sudah menunggu di depan
kantor Mely. Ia datang untuk menjemput. Dodi memohon, mengemis, dan
menangis, agar Mely mau memaafkannya. Dodi sangat menyesal atas
perlakuannya pada Mely. Ia berjanji takkan pernah mengulangi lagi.
“Aku cinta kamu.. aku butuh kamu. Kalau kamu gak mau maafin aku,
lebih baik aku bunuh diri..”, Dodi memelas sambil berurai air mata. Dan
seperti biasa, Mely pun memaafkannya. Mereka pulang bersama ke kosan
Mely.
Kejadian seperti ini sudah sering kali terjadi dalam hubungan Mely
dan Dodi. Mereka telah menjalin hubungan lebih dari setahun. Awalnya
Dodi sangat baik, lucu, dan menyenangkan. Tapi lama kelamaan, Dodi
menjadi semakin posesif. Ia memegang semua akses password email,
Facebook, dan YM kepunyaan Mely. Belum lagi kebiasaannya mengecek
handphone Mely.
Dodi semakin lama semakin gampang kehilangan kesabaran dan cemburu
buta. Pernah satu kali Dodi marah besar dan menampar Mely karena
menerima telpon dari seorang teman pria.
Tapi Mely tidak bisa meninggalkannya. Karena Dodi membutuhkannya. Ia
tidak bisa hidup tanpa Mely. Semakin Mely merasa bahwa dia tidak bisa
meninggalkan Dodi, semakin dia merasa yakin bahwa dia sangat mencintai
Dodi.
Sebuah siklus yang mengerikan…
Di atas adalah contoh kasus dari sebuah fenomena yang disebut dengan
Stockholm Syndrome.
Kasusnya mungkin berbeda, tapi saya yakin Anda pernah mendengar kisa
serupa dari sahabat Anda, gebetan Anda, atau mungkin Anda sendiri pernah
mengalaminya. Tidak selalu wanita yang menjadi korban, ada begitu
banyak pria juga yang berada dalam posisi seperti Mely.
Stockholm Syndrome adalah sebuah fenomena psikologis
paradoks di mana seorang tawanan/sandera menunjukkan perasaan sayang
dan keterikatan emosional pada orang yang menawan dan menganiayanya,
biasanya disebabkan karena rasa ketidak berdayaan atas situasi yang
dirasakan oleh sang korban.
Istilah
Stockholm Syndrome mengacu pada sebuah
peristiwa yang terjadi pada tahun 1973 di Stockholm, Swedia. Pada waktu
itu, sekelompok perampok bank menyandera para pegawai bank selama 5 hari
penuh. Selama 5 hari tersebut, para sandera jadi memiliki ikatan
emosional dengan para penyadera mereka. Ketika para tawanan ini akhirnya
dibebaskan, mereka bahkan membela para kriminal yang telah menyiksa
mereka.
Fenomena psikologis ini dapat ditemukan juga dalam hubungan sosial
seperti: keluarga, percintaan, persahabatan, ataupun hubungan antar
individu lainnya. Dan dewasa ini, sudah sangat umum terjadi di sekitar
kita.
Begitu banyak pasangan yang saya kenal langsung maupun tidak langsung, terikat belenggu
Stockholm Syndrome
dalam hubungannya. Ini adalah sebuah keadaan yang sangat mengerikan dan
menyedihkan. Bukan saja siklus tersebut akan menghancurkan dan merusak
diri kedua belah pihak, tapi juga bisa melukai orang lain di sekitar
mereka.
Pembentukan
Stockholm Syndrome bisa dilihat dari beberapa penyebab:
- Adanya sebuah ancaman dan kekerasan. Tidak selalu
kekerasan fisik, bisa juga penyiksaan mental, maupun emosional lewat
kata-kata verbal. Biasanya sang penganiaya menjatuhkan rasa percaya diri
korban dengan makian dan hinaan. Terkadang melibatkan hidup dan matinya
seseorang. Seperti Dodi yang mengancam ingin bunuh diri.
- Isolasi dan blokir secara fisik, mental, maupun emosional.
Alienasi dapat dilihat dari pasangan yang sangat posesif sehingga
korban tidak boleh berteman dengan orang lain sama sekali, dan semua
akses informasi dipegang oleh sang penganiaya (email, facebook, YM,
handphone, dsb).
- Adanya sebentuk kebaikan dan kasih sayang yang ditunjukkan sesekali oleh sang penganiaya. Karena telah terbiasa dengan penyiksaan dan rasa sakit, sang korban jadi kecanduan
dan menunggu-nunggu kapan kebaikan tersebut akan muncul. Kebaikan sang
penganiaya menjadi sebuah hal yang sangat berharga baginya.
- Sang korban menganggap diri tidak berdaya dan merasa tidak mungkin bisa keluar dari keadaan ini.
Akibatnya dia jadi menutup diri dan pasrah dengan keadaan. Tidak pernah
berani untuk mengambil keputusan tegas dan hanya berharap sebuah
keajaiban yang akan merubah keadaan.
Akibat tidak bisa bercerita pada siapapun, karena malu, dan akses
sosial yang dibatasi, maka sang korban jadi menutup diri dari orang
lain. Malahan dia akan menentang orang-orang yang mencoba menolongnya
keluar dari keadaan ini. Dia merasa tidak ada orang yang bisa mengerti
keadaan dan perasaannya.
Ini akan berakibat fatal. Karena lambat laun, sang korban akan
menerima keadaan ini sebagai kenyataan hidupnya dan merasa bahwa hanya
sang penganiaya lah yang mengenal dan mengerti dirinya. Dan itu yang
menciptakan ketergantungan emosional yang dalam. Sang korban menganggap
hal ini adalah
cinta.
Ketika hubungan sudah terjalin lama, akan makin sulit untuk
melepaskan diri. Investasi emosi, tenaga, dan finansial, membuat sang
korban tidak ingin meninggalkan hubungan ini. Dia harus bertahan hingga
akhir. Semua demi nama cinta.
Sepanjang pengalaman saya, sangat sulit untuk menyadarkan dan
menolong orang yang telah terjebak dalam siklus mengerikan ini. Korban
biasanya berhasil melepaskan diri dari cengkraman
Stockholm Syndrome
ketika penganiayaan telah melewati ambang batas tertentu dan mengancam
kelangsungan hidupnya, menyadarkan mereka akan realita hubungan yang
destruktif ini.
Mereka berhasil lepas dengan membawa luka dan trauma yang membekas
begitu dalam di jiwanya. Membuat mereka menjadi paranoid, penuh
ketakutan, dan ketidak stabilan emosional. Sulit bagi mereka untuk bisa
kembali merasakan kebahagiaan layaknya manusia normal. Kalau sudah
begini, mereka akhirnya jadi cenderung melukai orang-orang yang
mencintai mereka dengan tulus.
Stockholm Syndrome adalah sebuah realita yang banyak
terjadi di dunia sekitar kita. Sayangnya, banyak orang melihat ini
hanyalah konflik pacaran biasa. Tidak banyak yang mengerti betapa hal
ini sangat merusak setiap individu yang terlibat di dalamnya. Saatnya
kita membuka mata dan memikirkan kembali tentang hal ini.
Apa yang bisa kita lakukan?
Sahabat Anda,
Kei Savourie
*Semua cerita di blog ini adalah kisah nyata, tapi semua nama disamarkan untuk melindungi privasi orang-orang yang bersangkutan.