Ia membuka pintu toilet sambil menikmati bau cat yang mesih baru. Pintu
ditutupnya kembali, dikunci dari dalam, dan beberapa waktu kemudian ia sudah
berdiri di depan lubang kakus, membuka celana. Desis air memancar tercurah ke
lubang kakus sambil menyebarkan bau amoniak, dan mimic si bocah menyeringai
penuh kepuasan. Setelah semuanya tumpah, ia meng-kopat-kapit-kan apa yang dipegangnya, dan disiram dengan beberapa
guyuran air dari gayung, sisanya dicurahkan ke lubang kakus. Celana ditutup
kembali.
Bocah itu berumur dua puluh tahun, berpakaian gaya anak punk, dan terkagum – kagum dengan
dinding toilet yang polos. Baru dicat dengan warna krem yang centil. Ia
tertaweakecil, memperlihatkan giginya yang keropos empat biji, lalu ia merogoh
tas punggungnya dan menemukan apa yang dicarinya : spidol. Dengan seringai
penuh kemenangan, ia menulis di dinding :
Asu, reformasi gagal total, Kawan! Mari tuntaskan revolusi demokratik!
Asu, reformasi gagal total, Kawan! Mari tuntaskan revolusi demokratik!
***
Pukul tujuh pagi, ketika para mahasiswa belum membuat kegaduhan di ruang
kuliah mereka, seorang bocah sudah menyerbu toilet yang terdapat persis di
bawah tangga. Ia punya sedikit kelainan dengan salurannya : tampaknya beser. Mungkin karena sering minum kopi,
atau jarang olah raga. Setelah ritual paginya yang membosankan, ia menatap
tulisan di dinding yang mencolok itu dengan gemas.
Dengan sebatang pena, ia membuat tanda panah dari kalimat tersebut. Tapi
tulisan pena itu tak terlampau kentara, sebab ujungnya lancip benar. Ia merogoh
tasnya, mengaduk – aduk isinya, mencari sesuatu yang jika dituiskan bisa
sedikit lebih tebal. Ia tak menemukan apapun, dan mesti puas dengan pen.
Seseorang menggedor pintu toilet, ia pura – pura mengerang, memberitahukan
seseorang ada di dalam dan tak ingin diganggu. Dengan sedikit memercayakan diri
kepada kesabarannya ia menulis, membalas, kecil namun bisa terbaca :
Mulut bawel penghasut! Revolusi sudah mati sejak moyang embahmu. Bangsa kita mencari kedamaia, juga tidur siang. Mari mencari perek dan temukan revolusi di tempat tidur.
Mulut bawel penghasut! Revolusi sudah mati sejak moyang embahmu. Bangsa kita mencari kedamaia, juga tidur siang. Mari mencari perek dan temukan revolusi di tempat tidur.
***
Dan gadis itu kemudian muncul, seorang gadis tomboy dengan tas punggung
seorang petualang. Ia mengenakan celana jeans ketat, dan kaus oblong yang
kedombrangan ; lubang lehernya kadang merosot, sekali dua kali mempertontonkan
isinya yang tanpa bra. Ia benci saat – saat pipis, karena merasa repot harus
membuka – buka celananya. Pernah ia pipis sambil berdiri, mengikuti kebiasaan
buruk anak lelaki, agar praktis, tapi hasilnya kurang memuaskan. Air
menyebalkan itu tumpah kemana – mana, termasuk meleleh di celananya. Tapi hidup
di dunia sudah ditakdirkan untuk pipis, maka pipislah dia di toilet yang sama.
Meskipun merepotkan.
Dan seperti kebanyakan konsumen
toilet, ia tertarik dengan coretan di dinding, dan tergoda untuk ikut
berkomentar pula. Dicarinya spidol di tasnya, tapi ia hanya menemukan lipstik.
Ketika hendak menuliskannya, ia termenung sejenak. Ia mencari cermin kecil dari
tasnya, tapi tak ia temukan. Bukan kebiasaanya membawa cermin kecil, meski
lipstik selalu dibawanya. Tanpa peduli, ia mengolesi bibirnya dengan lipstick,
lalu mencium dinding toilet, meninggalkan jejak bibirnya yang merekah. Ia
tersenyum memandagi tanda tersebut, tapi kemudian ia merasa pesannya terlampau
samar. Maka menulislah ia dengan lipstiknya :
Kau pasti antek tentara! Antek Orde Baru!
Feodal, borjuis, reaksioner goblok! Omong kosong mulut bawel, persiapkan
revolusi!
***
Dua hari berlalu tanpa kejadian yang menghebohkan di toilet, sampai
seorang anak lain masuk. Ia membuka celananya, dan kemudian jongkok di atas
kakus. Plung! Plung! Terkejutlah ia dengan bunyi yang nyaring itu. Dibukanya
kran air agar suaranya menyaingi bunyi ‘plung, plung’ yang menjijikkan. Malu.
Dan sambil menikmati saat –saat penuh bau itu, si bocah mulai membacai tiga
kalimat yang tertulis di dinding. Ia tersenyum dengan tulidan terakhir, dan
membayangkan gadis macam apa yang menuliskannya.
Setelah cebok, ia berdiri menarik celananya ke atas masih sambil
memandangi baris – baris tulisan di dinding toilet. Dengan senyum nakal, ia
mencondongkan badanya dengan mengecup bibir merekah tersebut. Sambil memegangi
bibirnya sendiri dengan dua telunjuk, barangkali sambil bertanya dimana
kehangatan yang mestinya ia rasakan, bocah ini pun mengambil pena dan ikut
berkomentar dengan penuh gairah.
Hai, manis! Aku suka bibir
merahmu, semerah dan sehangat jiwa binatang jalang. Mau bertukar rasa bibir
denganku?
***
Kemudian disiang bolong, muncullah seorang gadis lain dan dari jenis
yang lain. Seorang hedonis yang suka berdandan. Tas tangannya yang sungguh
terlampau mungil, penuh dengan tetek – bengek alat perang seorang gadis ganjen.
Dan kemunculannya di toilet, jelas tak semata – mata untuk pipis atau bikin
konser ‘plung, plung’, bahkan tidak pula untuk sekedar cuci tangan dan meludah.
Ia hampir setiap hari berkunjung ke toilet, tak lain tak bukan untuk merenovasi
wajahnya yang berantakan setelah beberapa jam teraduk – aduk udara penuh
jelaga. Ia kurang percaya diri dan tentunya harus selalu berdandan.
Sigadis berdiri di samping bak mandi, menatap bayangan wajahnya di
cermin mungil yang ia genggam. Ditaburinya wajah yang tak pernah diakuinya
bertampang mesum dengan pupur agak tebal, lalu seputar matanya dihiasi lagi
dengan eya shadow. Tak lupa perona
pipi. Rambutnya yang acak – acakan, disisirnya lagi, dipasangi bando, jepit,
dan pita sekaligus. Bibir nya yang udah pucat, disapu pula dengan lipstick
warna merah menyala, semerah bendera nasional, dan ketika itulah ia membaca
segala uneg- uneg orang di dinding. Sambil tertawa centil, ia ikut menulis,
juga dengan lipstick :
Garong, mau bertukar rasa bibir
denganku? Boleh! Jemput jam Sembilan malam dirumah simbahku. PS : Jangan bawa
intel.
***
Entah hari yang ke berapa setelah toilet tampil dengan cat barunya,
muncullah ke toilet itu seorang laki – laki. Tubuhnya besar dan agak tinggi,
dengan rambut pendek sisa digundul. Kumis dan janggut tipis menghiasi mukanya
yang putih. Di telinga kirinya tergantung anting – angting perak, dan lehernya
diganduli empat atau lima kalung. Kemeja yang dikenakannya, model longgar dari
kain jumputan, dan pantolannya model baggy. Orang kalau melihatnya pasti
menduga ia seorang wadam atau bencong, meskipun agak sulit untuk
membuktikannya.
Bahkan melalui apa yang kemudian ditulisnya di dinding, merupakan
ungkapan dasar jiwanya, ia tetap tidak bias dipastikan seperti apa perilaku
seksualnya. Ia dating ke toilet untuk menemukan tempat ngobrol yang bebas
bising, maka ia mengeluarkan telepon genggamnya, yang sedari tadi berbunyi disaku
pantolannya. Sembari memegang telepon dengan tangan kanan yang menyilang ke
telinga kiri, dan mulutnya terus menyerocos, tangan kirinya masih sempat
mencari pensil dan menemukannya, sementara otaknya masih sempat membaca tulisan
di dinding. Beginilah kemudian apa yang ia tulis :
Lempar batu sembunyi tangan!
Revolusioner tempat tidur, digebuk tentara sekali sudah kabur ke selangkangan
mami. Hoy, kalau memang revolusioner, kasih muka kalian kesini. Dasar tukang
teriak, biang rusuh, ulat P-K-I!
***
Seminggu kemudian berlalu tanpa ada orang yang berani masuk ke dalam
toilet tersebut, gara – gara suatu peristiwa yang menyebalkan. Ada seorang
oknum, pasti bangsat keparat yang kurang moral, dan dikutuk oleh hampir semua
pelanggan setia jasa – jasa toilet, yang bikin ulah menjijikkan. Entah hari apa
dan jam berapa, ia masuk toilet dan segera saja menghujani kakus dengan roket –
roket yang keluar dari pantatnya. Gobloknya, ia kemudian keluar begitu saja
tampa membersihkan sampah – sampah keparatnya, yang menumpuk saling berpelukan
di lubang kakus.
Siapapun yang kemudian masuk setelah itu, bisa dipastikan kehilangan
selera untuk apapun di dalam toilet. Semua orang menghindarinya. Semua? Tidak!
Ternyata ada juga anak sinting yang masuk ke toilet itu dengan sadar. Kejadiannya di saat jam – jam kuliah sedang
berlangsung, dan anak itu meluncur dari ruang kuliah sambil memegangi bagian
depan celananya. Takut kebobolan. Ia masuk ke toilet pertama dilantai atas.
Terisi. Toilet kedua, juga terisi. Toilet pertama dilantai bawah, juga terisi.
Kakinya mulai gemetaran, melompat kesana melompat kesini, mempertahankan diri
jangan sampai jebol diruang dan waktu yang tak semestinya. Karena sudah tak
tahan, maka masukla juga ia ke toilet sialan itu. Dalam satu gerakan tergopoh,
ia berdiri dengan pasrah dan wusssshh…..
Selama itu ia menahan napas dan memejamkan mata. Namun setelahnya,
kemudian ia memutuskan untuk melakukan suatu tindakan heroic, guna mengakhiri
sumber horror di toilet ini. Masih sambil memejamkan mata, dan menutup hidung,
ia mengguyur lubang kakus, menyerang onggokan – onggokan yang nyaris sudah
tanpa bentuk, hingga semuanya larut dan menghilang, walau terasa mual. Sibocah
merasa lega, dan mulailah ia membaca pesan – pesan di dinding dengan kemarahan
yang tersesa dari tragedy yang baru saja terjadi. Ia mengambil spidolnya, warna
biru, dan segera ikut menulis :
Inilah reaksioner brengsek, yang
ngebom tanpa di bajur! Jangan – jangan tak pernah cebok pula. Hey, begajul, aku
memang P-K-I : Penggemar Komik Indonesia. Kau mau apa, heh?
***
Semua orang tahu belaka, toilet itu dicat agar tampak bersih dan terasa
nyaman. Sebelumnya, ia menampilkan wajahnya yang paling nyata : ruangan kecil
yang marjinal, tempat banyak orang berceloteh. Dindingnya penuh dengan tulisan
– tulisan konyol yang saling membalas, tentang gagasan – gagasan radikal
progresif, tentang ajakan kencan mesum, dan ada pula penyair – penyair yang
puisinya ditolak penerbit menuliskan seluruh mahakaryanya di dinding toilet.
Dan para kartunis amatir, ikut menyemarakkannya dengan gagasan gagasan ‘komedi
toilet’. Hasilnya dinding toilet penuh dengan corat – coret nakal, cerdas,
maupun goblok, sebagaimana toilet – toilet umum dimanapun : di terminal,
distasiun, di sekolah – sekolah, di stadion, dan bahkan di gedung – gedung
departemen.
Karena kemudian menjadi tampak kumuh, sang dekan sebagai pihak yang
berwenang di fakultas, memutuskan untuk mengecat kembali dinding toilet. Maka
terhapuslah buku harian milik umum itu. Tapi seperti kemudian diketahui,
tulisan pertama mulai muncul, lalu ditanggapi oleh tulisan kedua dan ramailah
kembali dinding – dinding toilet dengan ekspresi ekspresi yang mencoba
menyaingi kisah – kisah relief di dinding candi. Kenyataan ini membuat gelisah
mahasiswa – mahasiswa alim, yang cinta keindahan, cinta harmoni dan menjunjung
nilai – nilai moral dalam standar tinggi.
Salah satu mahasiswa jenis ini kemudian masuk toilet, dan segera saja
merasa jengkel meihat dinding yang beberapa hari lalu masih polos, sudah
kembali dipenuhi gagasan – gagasan konyol dari makhluk – makhluk usil. Ia bukan
seorang vandalis dan tak pernah berbuat sesuatu yang merusak, tapi kali ini ia
pun ikut menulis, walau hatinya nyaris menangis.
Kawan – kawan, tolong jangan
corat – coret di dinding toilet. Jagalah kebersihan sebab kebersihan merupakan
sebagian dari iman. Toilet bukan tempat menampung uneg – uneg. Salurkan aja
aspirasi anda ke bapak – ibu anggota dewan, please……
***
Alkisah, di bawah tulisan si mahasiswa alim itu, tertulislah puluhan
komentar dalam satu minggu. Hampir seratus setelah satu bulan kemudian. Tak
jelas siapa saja yang telah ikut menulis, membuat dinding toilet semakin
berubah wajah, kembali ke hakekatnya yang paling kumuh. Tanggapan – tanggapan
atas usul su mahasiswa alim, ditulis dengan beragam alat : pena, spidol,
lipstick, pensil, darah, paku yang digoreskan ke tembok, dan ada pula yang
menuliskannya dengan patahan batu bata atau arang. Betapa inginya mereka
menanggapi, sehingga berlaku pepatah secara sempurna, tak ada rotan akar pun
jadi.
Tulisan pertama berbunyi :
Bawel, aku tak percaya bapak –
ibu anggota dewan, aku lebih percaya kepada dinding toilet
Tulisan kedua berbunyi : Asu, aku
juga
Dan seratus tiga belas terseisa hanya menulis : Juga aku.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar