Selasa, 11 Desember 2012

Corat – coret di Toilet




Ia membuka pintu toilet sambil menikmati bau cat yang mesih baru. Pintu ditutupnya kembali, dikunci dari dalam, dan beberapa waktu kemudian ia sudah berdiri di depan lubang kakus, membuka celana. Desis air memancar tercurah ke lubang kakus sambil menyebarkan bau amoniak, dan mimic si bocah menyeringai penuh kepuasan. Setelah semuanya tumpah, ia meng-kopat-kapit-kan apa yang dipegangnya, dan disiram dengan beberapa guyuran air dari gayung, sisanya dicurahkan ke lubang kakus. Celana ditutup kembali.
Bocah itu berumur dua puluh tahun, berpakaian gaya anak punk, dan terkagum – kagum dengan dinding toilet yang polos. Baru dicat dengan warna krem yang centil. Ia tertaweakecil, memperlihatkan giginya yang keropos empat biji, lalu ia merogoh tas punggungnya dan menemukan apa yang dicarinya : spidol. Dengan seringai penuh kemenangan, ia menulis di dinding :
Asu, reformasi gagal total, Kawan! Mari tuntaskan revolusi demokratik!
***
 Pukul tujuh pagi, ketika para mahasiswa belum membuat kegaduhan di ruang kuliah mereka, seorang bocah sudah menyerbu toilet yang terdapat persis di bawah tangga. Ia punya sedikit kelainan dengan salurannya : tampaknya beser. Mungkin karena sering minum kopi, atau jarang olah raga. Setelah ritual paginya yang membosankan, ia menatap tulisan di dinding yang mencolok itu dengan gemas.
Dengan sebatang pena, ia membuat tanda panah dari kalimat tersebut. Tapi tulisan pena itu tak terlampau kentara, sebab ujungnya lancip benar. Ia merogoh tasnya, mengaduk – aduk isinya, mencari sesuatu yang jika dituiskan bisa sedikit lebih tebal. Ia tak menemukan apapun, dan mesti puas dengan pen. Seseorang menggedor pintu toilet, ia pura – pura mengerang, memberitahukan seseorang ada di dalam dan tak ingin diganggu. Dengan sedikit memercayakan diri kepada kesabarannya ia menulis, membalas, kecil namun bisa terbaca :
Mulut bawel penghasut! Revolusi sudah mati sejak moyang embahmu. Bangsa kita mencari kedamaia, juga tidur siang. Mari mencari perek dan temukan revolusi di tempat tidur.
***
Dan gadis itu kemudian muncul, seorang gadis tomboy dengan tas punggung seorang petualang. Ia mengenakan celana jeans ketat, dan kaus oblong yang kedombrangan ; lubang lehernya kadang merosot, sekali dua kali mempertontonkan isinya yang tanpa bra. Ia benci saat – saat pipis, karena merasa repot harus membuka – buka celananya. Pernah ia pipis sambil berdiri, mengikuti kebiasaan buruk anak lelaki, agar praktis, tapi hasilnya kurang memuaskan. Air menyebalkan itu tumpah kemana – mana, termasuk meleleh di celananya. Tapi hidup di dunia sudah ditakdirkan untuk pipis, maka pipislah dia di toilet yang sama. Meskipun merepotkan.
Dan seperti kebanyakan  konsumen toilet, ia tertarik dengan coretan di dinding, dan tergoda untuk ikut berkomentar pula. Dicarinya spidol di tasnya, tapi ia hanya menemukan lipstik. Ketika hendak menuliskannya, ia termenung sejenak. Ia mencari cermin kecil dari tasnya, tapi tak ia temukan. Bukan kebiasaanya membawa cermin kecil, meski lipstik selalu dibawanya. Tanpa peduli, ia mengolesi bibirnya dengan lipstick, lalu mencium dinding toilet, meninggalkan jejak bibirnya yang merekah. Ia tersenyum memandagi tanda tersebut, tapi kemudian ia merasa pesannya terlampau samar. Maka menulislah ia dengan lipstiknya :
Kau pasti antek tentara! Antek Orde Baru! Feodal, borjuis, reaksioner goblok! Omong kosong mulut bawel, persiapkan revolusi!
***
Dua hari berlalu tanpa kejadian yang menghebohkan di toilet, sampai seorang anak lain masuk. Ia membuka celananya, dan kemudian jongkok di atas kakus. Plung! Plung! Terkejutlah ia dengan bunyi yang nyaring itu. Dibukanya kran air agar suaranya menyaingi bunyi ‘plung, plung’ yang menjijikkan. Malu. Dan sambil menikmati saat –saat penuh bau itu, si bocah mulai membacai tiga kalimat yang tertulis di dinding. Ia tersenyum dengan tulidan terakhir, dan membayangkan gadis macam apa yang menuliskannya.
Setelah cebok, ia berdiri menarik celananya ke atas masih sambil memandangi baris – baris tulisan di dinding toilet. Dengan senyum nakal, ia mencondongkan badanya dengan mengecup bibir merekah tersebut. Sambil memegangi bibirnya sendiri dengan dua telunjuk, barangkali sambil bertanya dimana kehangatan yang mestinya ia rasakan, bocah ini pun mengambil pena dan ikut berkomentar dengan penuh gairah.
Hai, manis! Aku suka bibir merahmu, semerah dan sehangat jiwa binatang jalang. Mau bertukar rasa bibir denganku?
***
Kemudian disiang bolong, muncullah seorang gadis lain dan dari jenis yang lain. Seorang hedonis yang suka berdandan. Tas tangannya yang sungguh terlampau mungil, penuh dengan tetek – bengek alat perang seorang gadis ganjen. Dan kemunculannya di toilet, jelas tak semata – mata untuk pipis atau bikin konser ‘plung, plung’, bahkan tidak pula untuk sekedar cuci tangan dan meludah. Ia hampir setiap hari berkunjung ke toilet, tak lain tak bukan untuk merenovasi wajahnya yang berantakan setelah beberapa jam teraduk – aduk udara penuh jelaga. Ia kurang percaya diri dan tentunya harus selalu berdandan.
Sigadis berdiri di samping bak mandi, menatap bayangan wajahnya di cermin mungil yang ia genggam. Ditaburinya wajah yang tak pernah diakuinya bertampang mesum dengan pupur agak tebal, lalu seputar matanya dihiasi lagi dengan eya shadow. Tak lupa perona pipi. Rambutnya yang acak – acakan, disisirnya lagi, dipasangi bando, jepit, dan pita sekaligus. Bibir nya yang udah pucat, disapu pula dengan lipstick warna merah menyala, semerah bendera nasional, dan ketika itulah ia membaca segala uneg- uneg orang di dinding. Sambil tertawa centil, ia ikut menulis, juga dengan lipstick :
Garong, mau bertukar rasa bibir denganku? Boleh! Jemput jam Sembilan malam dirumah simbahku. PS : Jangan bawa intel.
***
Entah hari yang ke berapa setelah toilet tampil dengan cat barunya, muncullah ke toilet itu seorang laki – laki. Tubuhnya besar dan agak tinggi, dengan rambut pendek sisa digundul. Kumis dan janggut tipis menghiasi mukanya yang putih. Di telinga kirinya tergantung anting – angting perak, dan lehernya diganduli empat atau lima kalung. Kemeja yang dikenakannya, model longgar dari kain jumputan, dan pantolannya model baggy. Orang kalau melihatnya pasti menduga ia seorang wadam atau bencong, meskipun agak sulit untuk membuktikannya.
Bahkan melalui apa yang kemudian ditulisnya di dinding, merupakan ungkapan dasar jiwanya, ia tetap tidak bias dipastikan seperti apa perilaku seksualnya. Ia dating ke toilet untuk menemukan tempat ngobrol yang bebas bising, maka ia mengeluarkan telepon genggamnya, yang sedari tadi berbunyi disaku pantolannya. Sembari memegang telepon dengan tangan kanan yang menyilang ke telinga kiri, dan mulutnya terus menyerocos, tangan kirinya masih sempat mencari pensil dan menemukannya, sementara otaknya masih sempat membaca tulisan di dinding. Beginilah kemudian apa yang ia tulis :
Lempar batu sembunyi tangan! Revolusioner tempat tidur, digebuk tentara sekali sudah kabur ke selangkangan mami. Hoy, kalau memang revolusioner, kasih muka kalian kesini. Dasar tukang teriak, biang rusuh, ulat P-K-I!
***
Seminggu kemudian berlalu tanpa ada orang yang berani masuk ke dalam toilet tersebut, gara – gara suatu peristiwa yang menyebalkan. Ada seorang oknum, pasti bangsat keparat yang kurang moral, dan dikutuk oleh hampir semua pelanggan setia jasa – jasa toilet, yang bikin ulah menjijikkan. Entah hari apa dan jam berapa, ia masuk toilet dan segera saja menghujani kakus dengan roket – roket yang keluar dari pantatnya. Gobloknya, ia kemudian keluar begitu saja tampa membersihkan sampah – sampah keparatnya, yang menumpuk saling berpelukan di lubang kakus.
Siapapun yang kemudian masuk setelah itu, bisa dipastikan kehilangan selera untuk apapun di dalam toilet. Semua orang menghindarinya. Semua? Tidak! Ternyata ada juga anak sinting yang masuk ke toilet itu dengan sadar.  Kejadiannya di saat jam – jam kuliah sedang berlangsung, dan anak itu meluncur dari ruang kuliah sambil memegangi bagian depan celananya. Takut kebobolan. Ia masuk ke toilet pertama dilantai atas. Terisi. Toilet kedua, juga terisi. Toilet pertama dilantai bawah, juga terisi. Kakinya mulai gemetaran, melompat kesana melompat kesini, mempertahankan diri jangan sampai jebol diruang dan waktu yang tak semestinya. Karena sudah tak tahan, maka masukla juga ia ke toilet sialan itu. Dalam satu gerakan tergopoh, ia berdiri dengan pasrah dan wusssshh…..
Selama itu ia menahan napas dan memejamkan mata. Namun setelahnya, kemudian ia memutuskan untuk melakukan suatu tindakan heroic, guna mengakhiri sumber horror di toilet ini. Masih sambil memejamkan mata, dan menutup hidung, ia mengguyur lubang kakus, menyerang onggokan – onggokan yang nyaris sudah tanpa bentuk, hingga semuanya larut dan menghilang, walau terasa mual. Sibocah merasa lega, dan mulailah ia membaca pesan – pesan di dinding dengan kemarahan yang tersesa dari tragedy yang baru saja terjadi. Ia mengambil spidolnya, warna biru, dan segera ikut menulis :
Inilah reaksioner brengsek, yang ngebom tanpa di bajur! Jangan – jangan tak pernah cebok pula. Hey, begajul, aku memang P-K-I : Penggemar Komik Indonesia. Kau mau apa, heh?
***
Semua orang tahu belaka, toilet itu dicat agar tampak bersih dan terasa nyaman. Sebelumnya, ia menampilkan wajahnya yang paling nyata : ruangan kecil yang marjinal, tempat banyak orang berceloteh. Dindingnya penuh dengan tulisan – tulisan konyol yang saling membalas, tentang gagasan – gagasan radikal progresif, tentang ajakan kencan mesum, dan ada pula penyair – penyair yang puisinya ditolak penerbit menuliskan seluruh mahakaryanya di dinding toilet. Dan para kartunis amatir, ikut menyemarakkannya dengan gagasan gagasan ‘komedi toilet’. Hasilnya dinding toilet penuh dengan corat – coret nakal, cerdas, maupun goblok, sebagaimana toilet – toilet umum dimanapun : di terminal, distasiun, di sekolah – sekolah, di stadion, dan bahkan di gedung – gedung departemen.
Karena kemudian menjadi tampak kumuh, sang dekan sebagai pihak yang berwenang di fakultas, memutuskan untuk mengecat kembali dinding toilet. Maka terhapuslah buku harian milik umum itu. Tapi seperti kemudian diketahui, tulisan pertama mulai muncul, lalu ditanggapi oleh tulisan kedua dan ramailah kembali dinding – dinding toilet dengan ekspresi ekspresi yang mencoba menyaingi kisah – kisah relief di dinding candi. Kenyataan ini membuat gelisah mahasiswa – mahasiswa alim, yang cinta keindahan, cinta harmoni dan menjunjung nilai – nilai moral dalam standar tinggi.
Salah satu mahasiswa jenis ini kemudian masuk toilet, dan segera saja merasa jengkel meihat dinding yang beberapa hari lalu masih polos, sudah kembali dipenuhi gagasan – gagasan konyol dari makhluk – makhluk usil. Ia bukan seorang vandalis dan tak pernah berbuat sesuatu yang merusak, tapi kali ini ia pun ikut menulis, walau hatinya nyaris menangis.
Kawan – kawan, tolong jangan corat – coret di dinding toilet. Jagalah kebersihan sebab kebersihan merupakan sebagian dari iman. Toilet bukan tempat menampung uneg – uneg. Salurkan aja aspirasi anda ke bapak – ibu anggota dewan, please……
***
Alkisah, di bawah tulisan si mahasiswa alim itu, tertulislah puluhan komentar dalam satu minggu. Hampir seratus setelah satu bulan kemudian. Tak jelas siapa saja yang telah ikut menulis, membuat dinding toilet semakin berubah wajah, kembali ke hakekatnya yang paling kumuh. Tanggapan – tanggapan atas usul su mahasiswa alim, ditulis dengan beragam alat : pena, spidol, lipstick, pensil, darah, paku yang digoreskan ke tembok, dan ada pula yang menuliskannya dengan patahan batu bata atau arang. Betapa inginya mereka menanggapi, sehingga berlaku pepatah secara sempurna, tak ada rotan akar pun jadi.
Tulisan pertama berbunyi :
Bawel, aku tak percaya bapak – ibu anggota dewan, aku lebih percaya kepada dinding toilet
Tulisan kedua berbunyi : Asu, aku juga
Dan seratus tiga belas terseisa hanya menulis : Juga aku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar