Bagaimana kabarmu disana? Aku harap kamu baik-baik saja. Aku ingin
memastikan bahwa kamu-baik saja, karena keadaanku selalu kembali membaik
setelah mengetahui bahwa kamu baik-baik saja.
Hey sudah berapa kali aku mengulang kata baik?
Banyak kurasa. Miris mengkhawatirkan keadaanmu sementara keadaanku
sendiripun aku tak peduli. Kamu? Entah mengkhawatirkan keadaanku disini
atau tidak. Semoga iya, ah tapi aku tak ingin berharap banyak.
Pengharapan? Iya aku kini terlalu berhati-hati menjaga hatiku dari rasa itu. Pengalaman sebelumnya mengajarkanku banyak hal. Tentang memilih bertahan dengan pengharapan atau berhenti dengan kepastian (walaupun menyakitkan). Ya, aku bukan ingin mengulang perdebatan kita tentang ini, aku hanya ingin mengingatkan hati dan otakku untuk lebih memiliki jarak dengan senyummu. Jarak adalah satu-satunya pertahanan yang dapat ku jaga.
Ku beri tahu sedikit rahasia, Kini aku hanya ingin mencoba mengembalikan semua seperti awalnya, hubungan baik kita tanpa ada embel-embel perasaan. Pertemanan
yang kita jalin sebelumnya menyadarkanku bahwa ada yang lebih penting
dari egoku untuk memilikimu, karena aku tau kamu tak pernah benar-benar
menginginkanku untuk mendampingimu.
Hai, kamu! Disini masih ada aku yang siap menyediakan bahu dan telinga untukmu. Tenang saja, aku sudah berdamai dengan hatiku, kamu bisa bersandar sambil bercerita semaumu tanpa takut menyakitiku. Bahkan
jika kamu bercerita tentang priamu saat inipun aku sudah cukup tenang
dan menerima. Kamu tau, tetap bisa menemanimupun sudah lebih dari cukup
untukku. Setidaknya aku ingin menjadi rumah tempatmu pulang untuk
membagi lelah.
Ya, kamu. Aku ingin kamu tau bahwa kamu selalu memiliki aku. Silahkan datang padaku kapanpun kamu butuh teman untuk berbagi keluh kesah maupun sedikit mengulas kenangan. Kita masih teman bukan? :))
Tadi malam aku bermimpi tentang kamu. Padahal
sebelumnya aku tak memikirkanmu, hanya mengingatmu. Itupun hanya
sekilas, lalu lupa, ingat kembali, lupa, ingat. Aku selalu mengalami
fase seperti itu hampir 1 hari ini. Ah, lagi-lagi tentang kamu. Entah
yang keberapa kalinya aku merasa seperti ini, menyedihkan. Melihatmu
asik bercakap dengan priamu sungguh merupakan hal yang menjengkelkan
bagiku. Apakah aku cemburu? Ah tentu saja jawabannya iya. Bahkan
menurutku sangat! Aku benci wanita itu, terlihat sekali ia
menginginkanmu lebih, sama sepertiku. Aku meracau hingga tertidur. Lelap
dan lupa.
Mengingatmu membuatku sedikit terlihat lemah. Ternyata tadi malam aku
gelisah (lagi), terlihat sekali pagi ini mataku sembab. Hal pertama yang
aku lakukan adalah mencari telepon genggamku, mencari namamu disana. Mencoba
mengetik sebuah pesan lalu kuhapus, perasaanku bimbang saat ini. Aku
kerap di dera keingintahuan yang lebih tentang kamu, mencoba mencari
tahu, selalu seperti ini dan kadang ini menyulitkanku. Aku juga sering
mencarimu di linimasa. Dan ketika aku menemukanmu, aku kembali membaca perbincanganmu dengan priamu. Ya, benar-benar pengganggu batinku.
Aku mulai tak dapat berpikir jernih, ya aku rasa
kamu menyukai pria itu. Terlepas karena ia tampan, ia juga memiliki apa
yang aku tak punya, yaitu kepercayaan terhadap hatimu. Ah sudahlah, jika
kamu memang menyukai pria itu seharusnya aku bisa tersenyum. Toh
setidaknya aku tahu, priamu itu pasti bisa menjagamu dan menyiapkan
sapaan hangat di pagimu setiap hari.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar