Aku hanya ingin namamu yang tersisa dalam lorong lorong kecil di hatiku,
bukan cantiknya wajah, bukan indahnya tatapan mata, dan bukan manisnya
senyuman yang tersisa..Ya,,,, hanya sebuah nama, begitulah cara indah aku mengenang semuanya.
“Icha”
Aku selalu suka nama itu, nama yang slalu bisa memporak porandakan hati dan prasaanku, kadang bisa lebih ganas dari goncangan gempa bumi.
Icha,,,Maafkan,
jika tulisan ini akan memaksamu mengingat kisah yang seharusnya sudah
menjadi debu di hatimu. Maafkan aku, karna masih mengenang semuanya,
memikirkan beberapa hal tentangmu, masih menjadi kebiasaan kecilku.
Icha,,,Kelak,
jika waktu menjebak kita bertemu diperempatan jalan lampu setopan, di
tempat tempat belanja, Mall, atau di pesta pernikahan teman lama kita,
ingin sekali aku menanyakan kabarmu, atau kabar anak kecil yang ada di
dalam dekapanmu, kemudian kau akan menceritakan keluarga kecilmu dengan
nada bahagia, mungkin bisa menjadi pemandangan indah yang langka.
Icha,,,Beginilah caraku yang sederhana melantunkan rindu,
tanpa suara suara yang musti merdu terdengar, tanpa sua yang harus
lunas terbayar...hanya dengan tulisan, beberapa baris tulisan
Beginilah caraku yang sederhana menitipkan cinta, dengan kata-kata yang terikat pita doa, semoga Tuhan selalu menyayangimu, keluarga kecilmu dan orang-orang di sekelilingmu.
Icha,,,ini bukanlah ungkapan perasaan yang ingin kau disini dan menghapus beberapa baris tulisan tentang rindu, seperti dulu.
Aku hanya ingin memenuhi janjiku pada waktu, untuk tidak melupakanmu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar